Rakya Maori di New Zealand untuk mendukung perjuangan Rakyat Papua Barat

Sebuah aksi intervensi masyarakat Maori di New Zealand untuk mendukung perjuangan Rakyat Papua Barat dilakukan ditengah Festival Pasifika di Auckland..

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan

07 Mei 2013

Police arrest 6 separatists in West Papua

Papuan Protest Free West Papua / knpb photo
Holandia News,-- While people all over the world commemorated May 1 as a day for workers, residents in Papua celebrated on Wednesday the integration of Papua province into Indonesia.

In Jayapura, residents celebrated the integration of Papua into Indonesia by holding a float parade while introducing national heroes from Papua: Frans Kaisipeo, Marthen Indey, Silas Papare and Elieser Yan Bonai.

The police, however, arrested six people in Ibdi village in Biak regency for commemorating the day as Papua’s annexation by Indonesia and raising the Morning Star flag of the separatist Free Papua Organization (OPM).

“The six people were arrested because they were flying the banned flag,” Papua Police chief spokesman Sr. Comr. I Gede Sumerta Jaya said in Jayapura.

Some 50 other people were provoking the crowd to secede from Indonesia, he said. Sumerta added that when police were trying to disperse the crowd, they tried to seize firearms from the officers. The police were forced to fire warning shots.

In Sorong, West Papua, one soldier was injured when security officers tried to break up a crowd commemorating the annexation. The crowd refused to disperse and instead attacked security personnel using sharp weapons.
 
More>> Jpost-News

23 April 2013

KontraS: Tentara Harus Hentikan Praktek Kekerasan Main Hakim Sendiri


Paska peristiwa Cebongan, yang belum genap satu bulan, Anggota TNI kembali melakukan praktek kekerasan, setidaknya pada 2 kasus yang sangat mencolok; pertama, penyiksaan yang mengakibatkan kematian seseorang di Magelang; kedua, pada peristiwa pemukulan dikantor DPP PDIP Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Selengkapnya, dalam catatan KontraS, sejak Januari 2013 hingga April 2013, terjadi sejumlah kekerasan lain yang dilakukan anggota TNI;
Pertama, pada 1 Februari seorang anak bernama Fatir (1,5 tahun) meninggal di Makassar akibat peluru nyasar yang diduga dari senjata anggota TNI. Saat ini kasusnya tengah diproses di Denpom Kodam VII Wirabuana, Makassar dan Polsek Mamajang, Sulawesi.
Kedua, peristiwa penyerangan Polres OKU pada 16 Maret 2013 .
Ketiga, Peristiwa Cebongan pada 23 Maret, dimana terjadi penyerangan oleh Anggota Kopassus  Group II, Menjangan, Kertasuro, mengakibatkan 4 orang meninggal, 8 orang luka – luka akibat pembunuhan dan penyiksaan.
Keempat, pada 12 April, terjadi penganiyaan dan penyiksaan oleh  14 anggota TNI KODIM 0705 Magelang.  Kekerasan ini mengakibatkan Wibowo (41 th), seorang tuna rungu, meninggal dunia. Terakhir, kelima, 20 April, terjadi pengancaman dan pemukulan oleh sekitar 10 anggota TNI Batalyon Zeni Konstruksi (Yon Zikon) terhadap dua anggota satgas dan dua sopir DPP PDI-P, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. (lengkap lihat lampiran kekerasan TNI Januari- April 2013).

Bahkan, Sebelumnya, dipenghujung tahun lalu, pada 20 Desember  2012, terjadi penembakan terhadap 7 orang nelayan di perairan laut Pulau Papan, Raja Ampat, Papua, oleh Praka Ahmad Jumati, Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Waigama, Papua. Penembakan ini mengakibatkan empat orang meninggal, dan 2 orang luka tembak, selain itu, pada 16 Oktober 2012, terjadi penganiayaan oleh Letkol Robert Simanjutak, Kepala Dinas Personil Lanud Rusmin Durjadin, Riau.  

KontraS mengecam rangkaian marathon tindak kekerasan yang dilakukan oleh berbagai anggota TNI dari sejumlah kesatuan, Kopassus, Zeni Konstruksi, pasukan teritorial (Kodam, Kodim serta Babinsa). Peristiwa-peristiwa ini menunjukan sejumlah hal; Pertama, praktek main hakim sendiri masih dominan dan menjadi pilihan tindakan oleh anggota TNI, hal ini semakin kuat jika ada dugaan pelanggaran hukum yang mengakibatkan anggota TNI menjadi korban. Hal ini menujukan bahwa anggota TNI merupakan warga negara ekslusif dan seolah berhak menempuh caranya sendiri mencari keadilan. Kedua, lebih gawatnya upaya melakukan pemenuhan keadilan dilakukan dengan cara “street justice” dan dilakukan dengan kekerasan (pembunuhan, penyiksaan, penyerangan).

KontraS prihatin bahwa dalam berbagai situasi kekerasan dan pelanggaran hukum terjadi bahkan hingga anggota TNI menjadi korban. Akan tetapi sikap balas dendam diluar proses hukum bukan merupakan sebuah cara yang bisa dibenarkan atau boleh dilakukan. Terlebih jika tindakan-tindakan tersebut juga dilakukan dengan cara-cara yang juga melanggar hukum .

Peristiwa diatas menunjukan pertama, telah terjadi abuse of power (penyalanggunaan kekuasan) berupa penggunan fasilitas negara (senjata), dan kekuatan terlatih untuk melakukan serangan atau kejahatan terhadap masyarakat sipil. kedua, muncul kecenderungan penerapan solidaritas dan show of power (penunjukan kekuasaan) yang tidak pada tempatnya. Ketiga, tidak efektifnya mekanisme kontrol dan komando di internal kesatuan TNI, keempat, minimnya efek jera  anggota TNI dalam melakukan kekerasan.   

Secara lebih luas, kami melihat ada 3 agenda yang penting dituntaskan kedepan, pertama, reformasi sistem pertahanan TNI, dimana masih membiarkan TNI terutama angkatan darat berada ditengah masyarakat sehingga menyebabkan gesekan dengan masyarakat dan Polisi. Kedua, soal peradilan militer yang masih menyediakan perangkat ekslusif bagi anggota TNI untuk tidak dihukum secara sama dengan masyarakat lainnya. Ketiga, reformasi Polisi yang tidak jalan bahkan sebaliknya menjadikan mereka sebagai penikmat kekuasaan baru. Hal ini mengakibatkan kecemburuan tidak hanya dimasyarakat tapi juga di kalangan militer.

KontraS merekomendasikan agar; perlu dilakukan agenda penuntasan reformasi sektor keamanan (TNI dan Polri) terutama dalam soal sistem pertahanan, pembaharuan alutsista yang bebas korupsi dan penegakan hukum yang tidak diskriminatif. Kesempatan ini bisa dimulai dengan munculnya berbagai kasus diatas, ditambah dengan segera digantinya Panglima TNI dan Kapolri. Meskipun kecewa, kami juga menganggap bahwa tanggung jawab ini juga diemban oleh DPR RI.

Demikian. Terima kasih.
Jakarta, 20 April 2013
Badan Pekerja KontraS
Haris Azhar, Koordinator

Lampiran Kekerasan TNI Januari - April 2013 [unduh]
More on this category »