22 April 2013

Cermin Kehidupan Atau Dunia Impian

Bollywood : Cermin Kehidupan Atau Dunia Impian?
WNews,-- Cinta abadi, kegembiraan yang meluap, kesedihan amat mendalam dan tantangan berat. Dalam film-film Bollywood cinta pasangan pelakon utama, seringkali diuji lewat kesiapannya untuk berkorban.

Ciri khas jalan cerita film Bollywwod adalah memancing emosi penonton yang ibaratnya menaiki rollercoaster, naik dan turun amat cepat. Walaupun penonton tahu, bahwa di akhir cerita, pasti akan adegan "happy ending" yang ditampilkan, mereka tetap terpukau.

Para pelakon biasanya tampan dan cantik serta mengenakan busana warna warni yang menari atau menyanyi saat bahagia maupun sedih.

M. Madhaya Prasad profesor perfilman dari Hyderabad menegaskan aspek dalam film Bollywood ini memicu kontradiksi: "Film-film kami memang mempengaruhi warga dan masyarakat. Tapi film ini sekaligus menunjukkan realita, bahwa hal itu samasekali tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata para penontonnya".

Realitas Keras

Masyarakat India tetap terpisah lewat hierarki yang ketat. Memang sistem kasta secara resmi sudah dihapus, seiring diberlakukkannya konstitusi dari tahun 1950. Tapi di kawasan pedesaan sistem kasta yang diskriminatif itu masih tetap diterapkan.

Masyarakat India pasca tahun 1990-an memang diakui makin toleran dan terbuka, seiring kemajuan ekonomi dan pendidikan. Tapi perbedaan kelas tetap eksis. Dalam kisah film, pembatasan di antara dua orang yang bercinta, dapat dengan mudah diruntuhkan. Tetapi dalam kenyataannya tidak begitu.

Lebih dari dua pertiga dari 1,2 milyar penduduk India, sesuai data sensus tahun 2011, bermukim di pedesaan. Sekitar 90 persen perkawinan diatur dan ditentukan oleh keluarga, jadi tidak bebas berdasar cinta.

Perkawinan antara pemeluk agama yang berbeda, di mana di India 80 persen warga memeluk agama Hindu dan 16 persen Islam, juga sangat jarang terjadi. Namun film-film Bollywood seperti "Bombay" (1995), "Gadar" ( 2001), "Veer Zaara" (2004) atau "Jodhaa Akhbar" (Akbar, 2008) menggambarkan terobosan atas tabu ini.

Tidak mengherankan jika bintang film kenamaan Shah Rukh Khan dan Saif Ali Khan yang beragama Islam, dijadikan idola, karena dalam kehidupan nyata, mereka menikah dengan wanita beragama Hindu.

Refleksi Impian Warga

Sutradara kenanamaan Kunal Kohli, yang antara lain membuat film percintaan yang suskes di pasaran "Hum Tum" ( 2004) atau"Fanaa" (2006) mengatakan, film tidak bisa sejauh itu mengubah tata kemasyarakatan. Kepada DW ia mengatakan : "Film tidak benar-benar mempengaruhi kehidupan nyata, walaupun basisnya diambil dari kehidupan nyata." 

Penulis terkemuka India, Javed Akhtar menambahkan : "Film Bollywood memang merefleksikan apa yang terjadi dalam masyarakat. Tapi itu refleksi keinginan, harapan, nilai dan tradisi. Film India bukan refleksi realita, melainkan merefleksikan impian masyarakat."

Memang ada film yang menampilkan isu nyata, walau tidak banyak. Misalnya "Maqbool" (2003 karya Vishal Bhardwaj ), yang memotret tema mafia di Mumbai. Atau karya Anurag Kashyap's, Black Friday (2004), terkait serangan bom di Mumbai dan kerusuhan sektarian antara kaum Hindu dan Muslim.

Artis kenamaan Vidya Balan ("Dirty Picture") menegaskan: "Untuk membuat film Bollywood yang sukses resepnya hanya tiga macam, yakni hiburan, hiburan dan hiburan."

Pernyataan ini diamini Ranjini Majumdar dari Universitas Jawaharlal Nehru di New Delhi. Tapi ia juga memperlunak pernyataan artis terkenal India itu. "Sinema hanya memiliki satu arti, yakni hiburan. Kita tidak bisa mengharapkan sutradara menunjukkan realita keras sehari-hari. Ini bukan tugas film-film komersial", tutur dia.

Kutipan: www.dw.de
 

0 komentar:

Poskan Komentar

More on this category »